http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=12330:ibadah-aktif-dan-ibadah-pasif&catid=61:mimbar-jumat&Itemid=230
Rabu, 07 Juni 2017
Sabtu, 27 Mei 2017
Selasa, 16 Mei 2017
“An operating system wasn’t found” error when booting Windows
Ceritanya pada suatu ketika (16 Mei 2017) saya lagi download film besar-besaran, nampak drive C sudah hampir penuh, mungkin tersisa 1,5GB saja, padahal antrian film yang sedang proses download masih banyak. Kepikiran olehku untuk menggabungkan partisi D ke C supaya ruang partisi C bertambah besar.
Mulailah saya beraksi. File-file penting di D saya copy ke HDD External. Setelah semua file aman, saya delete partisi D, lalu hendak saya gabungkan ke C (Extended) pakai tool bawaan Windows, eh ternyata tidak bisa atau tidak ada pilihan.
Alternatifnya saya hendak menggabungkan partisi dengan aplikasi Mini Partition Tool. Setelah saya instal, lalu eksekusi dimulai. Karena yang mau dimodifikasi partisi C, proses repartisi membutuhkan booting ulang windows. Nah saat Windows booting ulang, muncullah pesan error seperti di atas, yang artinya Windows boot manager rusak karena partisi tersebut.
Berbagai cara telah saya coba untuk memperbaiki boot manager yang rusak tersebut, namun tidak berhasil. Walhasil, berhasil dengan cara berikut
https://support.microsoft.com/en-us/help/3103656/-an-operating-system-wasn-t-found-error-when-booting-windows
Selasa, 21 Maret 2017
Jangan Cukup Menjadi Baik, Jadilah Penyeru Kebaikan
APA yang ada dibenak Anda jika terlintas kata “orang baik dan penyeru kebaikan”. Memang ada perbedaan di antara keduanya? Ternyata ada.
Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)?
Orang Baik biasanya dikatakan dengan istilah orang sholih. Orang ini ialah orang yang senantiasa melakukan kebaikan untuk dirinya saja, sedangkan Penyeru Kebaikan atau Muslih ialah orang yang senantiasa mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan orang lain.
Selain itu, biasanya orang baik itu akan dicintai manusia, sementara penyeru kebaikan akan dimusuhi manusia. Kok bisa gitu?
Ternyata hal ini bisa kita lihat dari perjalanan hidup Rasulullah SAW. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sebelum diutus, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik. Namun ketika Allah SWT mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya tukang sihir,Pendusta bahkan orang gila.
Mengapa bisa seperti itu?
Jawabannya karena Penyeru Kebaikan ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan. Karena melalui penyeru Kebaikan itulah Allah jaga umat ini..Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri.
Allah Subhanahu wa ta’alaa berfirman:
“Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan satu negeri dengan zalim padahal penduduknya adalah penyeru kebaikan..”
Dari penjelasan di atas, kita dapat mengambil hikmahnya bahwa menjadi orang sholih saja tidak cukup bagi kita, sebab kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Maka lihatlah kondisi sekitar Anda . Jadilah orang sholih yang menyeru kebaikan, jangan merasa puas hanya sebagai orang baik saja. Waallahu’alam []
Sumber: https://www.islampos.com/772-772/
Senin, 20 Maret 2017
Belajar Pada Kehidupan
Setiap detik yang terlewati
Setiap peristiwa yang terjadi
senang-susah,
baik-buruk,
benar-salah,
untung-rugi,
mendapatkan-kehilangan,
Semuanya pelajaran berharga
Semuanya bernilai ilmu
Untuk direnungi
Untuk dipelajari
Supaya berbenah diri
Agar tak jatuh ke lubang yang sama
Agar hari esok lebih baik dari kemarin
Agar keburukan kemarin terkikis kebaikan mendatang
Dosa masa lalu terhapus pahala mendatang
Murka-Nya terganti rahmat-Nya
Laknat-Nya terganti ridlo-Nya
La haulaa walaa kuwwata illa billah
Minggu, 05 Maret 2017
RIDHO PADA SETIAP KENYATAAN
Saudaraku, salah satu sebab kita tidak bahagia dalam hidup adalah karena ketidaksiapan menghadapi kenyataan. Kita siap menghadapi kenyataan yang sesuai dengan keinginan kita. Tapi, belum tentu kita siap menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Padahal tidak mungkin setiap keinginan kita terpenuhi. Apa jadinya jika setiap orang ingin jadi presiden dan semuanya terkabulkan, tentu kacau hidup ini.
Alloh Swt. telah mengingatkan bahwa tidak setiap keinginan kita itu baik untuk kita. Karena keinginan kita lebih banyak didorong oleh hawa nafsu. Sedangkan Alloh Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Dan, Alloh juga Maha Mengetahui setiap kebutuhan makhluk-Nya.
Alloh Swt. berfirman, “..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh [2]: 216)
Yang penting kita lakukan adalah bersikap ridho pada setiap ketetapan Alloh Swt. atas diri kita. Boleh jadi kita mengusahakan sesuatu, tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, tidak mengapa. Karena kewajiban kita hanyalah berusaha, berikhtiar. Ikhtiar inilah yang menjadi amal sholeh kita, menjadi ibadah kita. Adapun hasilnya, serahkan kepada Alloh Swt.
Jika Alloh Swt. telah mentakdirkan sesuatu bagi hamba-Nya, maka takdir tersebut pasti kebaikan. Agar kita terlatih bersikap ridho, maka perlu kita selalu yakin bahwa tiada satu kejadian sekecil apapun, kecuali pasti Alloh mengetahuinya. Alloh Swt. berfirman, “..Maka sesungguhnya Alloh adalah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab [33] : 54).
Kita harus yakin bahwa setiap kejadian itu ada dalam pengetahuan dan keuasaan Alloh Swt. Dan, Alloh Maha Mengetahui setiap jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi oleh hamba-hamba-Nya. Sehingga tiada tempat untuk mengadu dan memohon pertolongan selain Alloh Swt.
Menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan kita itu mungkin memang tidak enak. Tapi, rasa tidak enak itu akan lebih menjadi-jadi jikalau tidak ada ridho di dalam hati kita. Bersikap ridho atas apa yang telah terjadi akan membuat hati kita jauh lebih tenang dan bahagia. InsyaaAlloh.
AA. Gym
Sabtu, 18 Februari 2017
Mengejek Orang Yang Berbuat Dosa
Assalamualaikum Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong, “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”
Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini maudhu’). Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا
“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)
Hadits di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadits berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain) dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi Ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan. Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri.
Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihat berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan dan merasa diri lebih baik dari orang lain.
Jangan sombong, sampai merasa bersih dari dosa atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.
Semoga Allah memberikan hidayah
Sumber : https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html
Jumat, 17 Februari 2017
Tips Sabar dan Ikhlas menghadapi Ujian Allah SWT
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..
Alhamdulillah masih diberi nikmat sehat sehingga masih bisa menyapa para sahabat di hari yang cerah ini *_*
Sabar dan ikhlas... dua kata yang sangat mudah di ucapkan tapi terasa sulit ketika dijalankan... eiiits.. itu kata siapa? sebenarnya ga ada yang sulit jika kita mau berusaha dan selalu berkhusnudzon kepada Allah...
Seringkali ketika kita mendapatkan suatu permasalahan, kita justru berprasangka buruk bahwa Allah pilih kasih dan tidak sayang kepada kita. Padahal supaya permasalahan yang kita hadapi terasa ringan, maka kita harus menjaga persangkaan yang baik (huznudzan) kepada Allah swt. terhadap ujian permasalahan yang diberikan pada kita. Dengan perasaan positif tersebut kita akan mampu bersabar dan bisa berfikir jernih untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang kita hadapi. Kita harus berusaha sabar dan ikhlas.
Pada umumnya kita semua bisa lebih sabar, disaat kita diuji Allah dengan hal yang menyenagkan, tapi saat kita diuji Allah dengan ujian yang tidak menyenangkan, seperti ujian kesulitan, ujian kehilangan dan atau musibah maka kebanyakan dari kita, akan merasa begitu sulit menerimanya dan sulit untuk bisa sabar. Ujian kesulitan, ujian kehilangan, kekurangan musibah, penyakit, kemiskinan, adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini
“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)Ketahuilah, sabar akan sangat sulit dilakukan, apabila kita tidak mampu menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian. Sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Sabda Rasulullah saw:
“Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).Ketahuilah dan yakinlah, bahwa sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah SWT berikan untuk kita, maka ada hikmah dan pahala yang besar yang menyertainya. Seperti sabda Rasulullah SAW,
“Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).Rasulullah SAW bersabda :
“Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR. Tirmidzi).Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).Kita harus rela menerima segala ketentuan Allah dan menyadari bahwa apapun yang terjadi, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita wajib menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan.
Allah SWT berfirman :
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)Apabila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, sebaiknya kita mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembali). ini dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah, setelahnya dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut :
“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan doa di atas niscaya Allah SWT akan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)
Rasulullah SAW bersabda,
“Apabila ada anak salah seorang hamba itu meninggal maka Allah bertanya kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab, ‘Ya.’ ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab ‘Ya.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ -membaca innaa lillaahi dst-..’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga, dan beri nama rumah itu dengan Bait al-Hamd.’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [1408]).Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini :
“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)Berikut ini ada beberapa tips yang insyaAllah bisa membuat kita semua bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian-Nya yang paling berat sekalipun :
1. Kita harus percaya pada jaminan Allah bahwa :
”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al Baqarah [2] : 286).Allah SWT yang memiliki diri kita, sangat tahu kemampuan kita, jadi tidak akan mungkin Allah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan kita. Jadikan setiap permasalahan hidup sebagai tantangan dan ajang ujian kenaikan kelas. Allah swt sedang mempersiapkan kita menjadi pribadi yang lebih layak untuk menduduki posisi sosial yang lebih baik.
2. Sebenarnya, kita semua pasti mampu untuk bisa sabar dalam segala ujian dan segala keadaan, asalkan kita kuat iman.
3. Coba kita tanyakan pada diri kita, saat kita ditimpa suatu ujian kesulitan, kesedihan dan atau kehilangan, apa manfaat yang bisa kita ambil kalau kita tidak sabar dan tidak mengikhlaskannya? Apakah dengan ”tidak sabar” dan ”tidak ikhlas” nya kita, maka bisa menghadirkan kenyamanan untuk kita? Atau bisa membuat ujian tersebut tidak jadi datang atau tidak jadi menimpa kita? Sekarang mari kita pikirkan kembali, kita sabar atau tidak sabar, ikhlas atau tidak ikhlas, ujian kesulitan / kesedihan atau musibah tetap terjadi dan menimpa kita kan? Jadi lebih baik kita terima dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Bila kita bisa sabar dan ikhlas menerimanya, maka insya Allah, tidak akan terasa berat lagi ujian tersebut, percayalah. Dan ingat, dalam sabar, terkandung ridha Allah SWT. Dan ridha Allah SWT terhadap kita, adalah segalanya.
4. Kita harus selalu baik sangka kepada Allah SWT dan jangan pernah sekalipun meragukan dan mempertanyakan keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah. Kita harus bisa sabar dan ridha terhadap apapun keputusan, ketetapan dan pengaturan-Nya. Kalau kita masih merasa tidak puas dengan semua keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah itu, maka cari saja Tuhan selain Allah. Perhatikan firman-Nya dalam hadits Qudsi :
”Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan selain Aku.” (hadist ini diriwatkan oleh al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir melalui jalur Abu Hind al-Dari).Selalu berfikiran dan bersikap positif dalam memandang segala permasalahan. Jika kita memancarkan energi positif maka lingkungan pun akan memberikan feedback positif kepada kita.
5. Berdo’a-lah agar kita diberikan kesabaran dan kekuatan untuk bisa memikul sebesar-besarnya masalah dari pada terus-terusan meminta untuk dijauhkan dari masalah. Semakin kita terampil memecahkan permasalahan besar, semakin tinggi kualitas pribadi kita.
Ya Allah..jadikan kami penyabar dan besabar dengan setiap dugaanMU. Ya Allah, jadikanlah kami golongan hambaMU yang sabar... Karena itu, marilah kita sabar dan ikhlas dalam segala keadaan, yakinlah bahwa janji Allah pasti benar. Percayalah, sabar dan ikhlas, akan membuahkan kebahagiaan hidup.
sumber: http://akhwatperindusurga.blogspot.co.id/
Sabtu, 21 Januari 2017
KECELEK
*1. KECELIK YG PERTAMA*
"Sebab keapikan iku lek diketokno ora nggarai apik. Justru nggarai élék,’’ tuturnya. Sebaliknya, keapikan kalau ditutupi, akan semakin kelihatan baik.
’’Sampean kenalan karo wong. Sampean takoni jenenge sopo? Kok deweke jawab, *_Kulo almukarrom kiai haji Sholeh_* ... Yo malah diguyu. Kok ora ditambahi almarhum pisan,’’ ucapnya disambut tawa jamaah.
_Pelok_, isi buah mangga,... jika ditanam di tanah dalam-dalam, justru akan menumbuhkan pohon dan buah. ’’
Coba pelok iku delehen nduwur mejo. Yo sido garing,’’ tambahnya.
’’Makanya ada maqolah, *_Kun ardlon fî qodaminnâs_* ... Jadilah kamu bumi bagi kaki-kaki manusia,’’ tuturnya. ’
*"Bumi itu di bawah. _Yo diinjak-injak. Yo diidoni_ ...Tapi regane tambah suwi tambah larang. Padahal bumine ora lapo-lapo",* ucapnya kembali disambut ger-geran jamaah.
Makanya jika ngelakoni apik, sebaiknya disembunyikan atau ditutupi.
*_Attawâdlu’u lâ tazîdu illâ rif’ah_* (Wong tawadlu' akan semakin mulia).
’’Orang yang berbuat baik dengan diketok-ketokno iku biasane gak eroh (tidak tahu) dalane berbuat apik. Utowo gak biasa ngelakoni apik,’’ jelasnya.
*2. KECELIK YG KEDUA*
Duwek akeh iku lek disedekahno. *_Asshodaqotu lâ tazîdu illâ katsrotan_*.
Setiap malam malaikat turun mendoakan orang-orang yang sedekah, *"Ya Allah, gantilah yang lebih banyak kepada orang-orang yang sedekah*".
’’Saya kemarin di Kediri ketemu konco yang setiap tahun gurune diberi motor. Saya tanya kok iso ngono?’’ kata Kiai Saerozi.
*Uang sesungguhnya adalah pembantu.* ’’Kalau disedekahkan, uang itu hidup. Golekno pahala sing sedekah,’’ jelasnya. Misalnya uang itu dipakai mbayari guru ngaji. Maka orang yang sedekah dapat pahala ngajar ngaji tanpa susah payah ngajar ngaji.
"Sampean seneng endi duwe pembantu turu karo pembantu sing kerjo?’’ ucap Kiai Saerozi.
*Orang yang medit (uangnya disimpan), sebenarnya loman.* Sebab harta yang disimpannya, ketika meninggal, *_seluruhnya akan dinikmati pewarisnya_*, kata Kiai Saerozi.
Sebaliknya, orang yang suka *sedekah*, sebenarnya *pelit*. *_Karena semua yang disedekahkan, kelak akan ia nikmati sendiri di akhirat._*
*3. KECELIK YG KETIGA*
Sebab musuh sing dikalahno, duwe bolo, duwe konco, duwe keluarga.
*"Masio kalah, koncone, bolone, keluargane pasti balas dendam. Musuhe tambah akeh"* , tuturnya.
Menang yang sejati, kata Kiai Saerozi, adalah *dengan memaafkan*.
*’’Musuh disepuro dadi bolo, dulur ora disepuro dadi musuh"*, tegasnya.
Misalnya musuhan dengan tetangga kanan rumah. Ora gelem nyepuro, maka lewat depan rumahnya pasti segan. Musuhan dengan tetangga kiri rumah. Ora mau nyepuro, lewat di depannya pasti juga segan. ’’Akhire ngiri buntu, nganan yo buntu. Padahal asline ora buntu. Sing mbuntu atine dewe,’’ jelasnya.
Kalau punya musuh, mau ngapain juga pasti susah. ’’Mau masuk musholla kok di dalamnya ada musuhe. Pasti tidak mau masuk. Ora dikipatno ngipat-ngipat dewe", ucapnya disambut ger-geran jamaah.
’’Mau naik angkot kok di dalam ada musuhe. Pasti ora sido naik,’’ tambahnya.
Makanya yang paling baik adalah memaafkan.
*"Jagoan sejati iku nyepuroan (pemaaf)"*
_"Ngeluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake"._
*_Tidak boleh membanding-bandingkan kelebihan anak di hadapan anak yang lain. Sebab kalau sudah tali silaturrahim putus, maka tali hubungan dengan Allah juga putus._*
_"Kajio bendino (kasarane) kalau hubungan dengan sanak keluarga ora apik, percuma",_ tegasnya.